Tuntutan dan arah standardisasi profesi konseling di Indonesia mengacu kepada perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan pelayanan konseling. Kondisi yang berkembang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

  • Perkembangan pendidikan dan kehidupan masyarakat yang semakin mendunia yang diiringi dengan berbagai perubahan dan kemajuan serta masalah-masalah yang melekat di dalamnya menimbulkan berbagai tantangan dan sekaligus menumbuhkan harapan bagi seluruh warga masyarakat. Tantangan, harapan, kesenjangan, dan persaingan yang terus-menerus sebagai suatu kenyataan yang dihadapi manusia dalam berbagai setting kehidupan, yaitu keluarga, sekolah, lembaga formal dan nonformal, dunia usaha dan industri, organisasi pemuda dan kemasyarakatan, menjadi potensi timbulnya berbagai permasalahan. Kondisi semacam ini menjadikan fokus, perhatian serta medan pelayanan konseling semakin lebar, tidak hanya terbatas pada lingkungan persekolahan, melainkan juga memasuki lingkungan masyarakat luas. Konseling untuk semua (counseling for all) dan konseling sepanjang hayat (lifelong counseling) menjadi sangat relevan dengan dan sangat diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan kondisi kehidupan masyarakat yang mendunia. Dalam lingkup yang lebih luas itu, profesi konseling di Indonesia tidak hanya terkait dengan berbagai aspek yang bersifat nasional, melainkan juga yang bersifat internasional.

 

  • Pelayanan konseling yang diarahkan untuk membantu pengembangan individu dalam setting sekolah dan masyarakat luas itu harus diselenggarakan oleh tenaga ahli yang profesional. Dalam hal ini pendidikan tenaga profesi konseling yang selama ini dilakukan di LPTK, pada jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3), perlu dikaji ulang sesuai dengan arah profesi konseling yang dapat diakses untuk setting persekolahan maupun setting masyarakat luas. Kompetensi tenaga konseling profesional perlu dirumuskan dalam kaitannya dengan standard profesi konseling. Kompetensi ini menjadi acuan atau dasar pengembangan program dan penyelenggaraan pendidikan tenaga konseling dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan. Pemetaan spektrum kompetensi dan jenjang pendidikan Sarjana, Magister, Doktor dan Pendidikan Profesi Konselor (yang telah dirintis di Universitas Negeri Padang sejak 1999) harus merujuk kepada standard profesi dimaksud. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) lebih terfokus kepada penyiapan praktisi konselor profesional yang berkewenangan menyelenggarakan pelayanan profesi konseling di masyarakat luas. Dalam pada itu, Program Magister dan Doktor memiliki fungsi menyiapkan tenaga ahli atau akademisi untuk memperkuat bidang akademik, penelitian dan pengembangan keilmuan konseling. Dalam hal ini, program PPK dapat dilaksanakan secara terpisah atau serempak dengan program Magister atau Doktor Konseling.
  • Jurusan/Program Studi Bimbingan dan Konseling sebagai penyelenggara program pendidikan prajabatan tenaga konseling profesional perlu memenuhi standard profesi yang diharapkan. Hal ini mencakup kurikulum, dosen, sarana dan prasarana serta fasilitas lainnya sehingga memenuhi standard minimun bagi terselenggaranya pendidikan profesional konseling. Pemenuhan standard profesi oleh para dosen akan dapat secara langsung meningkatkan keprofesionalan konseling dengan dampak yang berganda, terhadap :
    • mutu pendidikan program Sarjana (S1) Konseling itu sendiri;
    • mutu pelayanan konseling yang dipraktikkan para lulusan S1 Konseling;
    • mutu perkembangan peserta didik di sekolah yang mendapat pelayanan konseling dari lulusan S1 Konseling;
    • mutu perkembangan dan perilaku individu/kelompok warga masyarakat yang telah mendapat pelayanan konseling, termasuk dari konselor yang berpraktik secara mandiri (privat).
  • Pelayanan konseling yang mendunia menuntut standard profesi yang memenuhi persyaratan nasional dan internasional. Dalam hal ini, pelayanan dan program-program pendidikan tenaga profesi konseling harus didasarkan pada standard profesi konseling yang tidak hanya memperoleh pengakuan nasional tetapi juga internasional. “Internasionalisasi” profesi konseling ini memiliki dua arah, yaitu kemampuan membawa profesi konseling Indonesia ke kancah percaturan profesi konseling internasional pada satu arah, dan kemampuan merespon secara proporsional-profesional rangsangan dan pengaruh yang datang dari luar negeri terhadap profesi konseling di tanah air pada arah yang lain. Profesi konseling di Indonesia dituntut untuk memenuhi standar persyaratan konseling internasional, dan para tenaga profesionalnya dapat bersaing dengan tenaga profesional konseling dari negara-negara lain.