Profesi merupakan pekerjaan atau karir yang bersifat pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pengguna berdasarkan norma-norma yang berlaku. Kekuatan dan eksistensi profesi muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara kinerja tenaga profesional dengan kepercayaan publik (public trust). Masyarakat percaya bahwa pelayanan yang diperlukannya itu hanya dapat diperoleh dari orang yang dipersepsikan sebagai seorang yang berkompeten untuk memberikan pelayanan yang dimaksudkan. Public trust akan mempengaruhi konsep profesi dan memungkinkan anggota profesi berfungsi dalam cara-cara profesional. Public trust akan melanggengkan profesi, karena dalam public trust terkandung keyakinan publik bahwa profesi dan para anggotanya berada dalam kondisi sebagai berikut.

  1. Memiliki kompetensi dan keahlian yang disiapkan melalui pendidikan dan latihan khusus dalam standard kecakapan yang tinggi. Kompetensi ini dikembangkan melalui pendidikan formal dan/atau khusus sebelum memasuki dunia praktik profesional. Tenaga profesional dipersyaratkan untuk menunjukkan kemampuan yang dibuktikan melalui uji kompetensi yang dilaksanakan secara periodik.
  2. Memiliki perangkat ketentuan yang mengatur perilaku profesional dan melindungi kesejahteraan publik. Aspek penting dalam hal ini adalah kepercayaan :
    • adanya kodifikasi perilaku profesional sebagai aturan yang mengandung nilai keadilan dan kaidah-kaidah perilaku profesional yang tidak semata-mata melindungi anggota profesi, tetapi juga melindungi kesejahteraan publik.
    • bahwa anggota profesi mengorganisasikan pelayanannya dan bekerja dengan berpegang kepada standard perilaku profesional. Diyakini bahwa seorang profesional akan menerima tanggung jawab mengawasi dirinya sendiri (self regulation). Aspek penting dari self regulation adalah komitmen terhadap kode etik dan standard praktik.
  3. Anggota profesi dimotivasi untuk melayani pengguna dan pihak-pihak terkait dengan cara terbaik. Keyakinan ini menyangkut komitmen seorang tenaga profesional untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan finansial. Dengan orientasi seperti ini, suatu profesi perlu mengembangkan dan menegakkan hal-hal berikut.
    • Ilmu dan teknologi, merupakan dasar dan andalan bagi terselenggaranya pelayanan suatu profesi. Penguasaan ilmu dan teknologi selain harus diperoleh di perguruan tinggi, juga memerlukan waktu yang cukup lama. Agar penerapan dasar-dasar keilmuan dan teknologi itu – disertai aspek-aspek nilai dan sikap profesional – benar-benar terlaksana, pelayanan ini diarahkan, dibimbing dan dijaga oleh kode etik yang secara khusus disusun untuk profesi yang dimaksud. Perlu ditegaskan bahwa basis keilmuan profesi konseling adalah ilmu pendidikan yang dibantu oleh perangkat ilmu-ilmu lain yang relevan. Basis keilmuan ini, dilengkapi dengan wawasan, keterampilan, nilai dan sikap yang didasarkan pada hakikat kemanusiaan yang menyeluruh akan membentuk sosok profesional konseling yang holistik. Pada diri tenaga profesi konseling tergabung antara nilai-nilai kemanusiaan yang membahagiakan dengan wawasan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan secara serasi, harmonis dan dinamis, bukan hanya dalam penyelenggaraan pelayanan profesional, melainkan juga dalam kehidupannya sehari-hari.
    • Untuk dapat melaksanakan profesinya, seorang tenaga profesi harus memiliki visi dan misi secara luas dan mendalam dalam bidang profesinya, dapat melakukan aksi pelayanan secara tepat dan akurat, disertai dedikasi yang tinggi untuk kepentingan pengguna (klien, pasien, dan sebagainya). Misi dan visi, aksi, dan dedikasi, akan menjamin terlaksananya pelayanan profesi secara terarah, konsisten dan tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pengguna.
    • Suatu profesi yang bermartabat perlu didukung oleh (a) pelayanan yang tepat dan bermanfaat, (b) pelaksana yang bermandat dan (c) pengakuan yang sehat dari berbagai pihak yang terkait. Ketiga hal tersebut akan menjamin tumbuh-subur dan kokohnya identitas serta tingginya citra dan kemartabatan profesi yang dimaksud.
    • Salah satu ciri khas suatu profesi ialah keseragaman, antara lain dalam pemakaian istilah. Dengan keseragaman ini tercerminkan kemantapan ilmu dan teknologi, keterarahan dan ketepatan layanan, serta ketegasan kode etik suatu profesi. Kesimpangsiuran dalam pemahaman, pelaksanaan kegiatan, serta penilaian dan supervisi terhadap implementasi suatu profesi tidak boleh terjadi.
    • Hal-hal tersebut di atas mengimplikasikan bahwa untuk suatu profesi diperlukan :
      • pendidikan prajabatan untuk memberikan modal dasar bagi (calon) tenaga profesi, serta pendidikan dalam-jabatan untuk setiap kali menyegarkan tenaga profesi tersebut terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta berbagai aspek dalam bidang profesi yang dimaksud;
      • pemberian kesempatan yang luas bagi dipraktikkannya profesi serta perlindungan yang memadai. Kesempatan dan perlindungan ini ditujukan ke dua arah, yaitu demi tumbuh dan berkembangnya profesi itu sendiri, dan demi terjaganya para pengguna dari kegiatan malpraktik oleh orang-orang yang menjalankan profesi yang dimaksud;
      • organisasi profesi yang mampu ikut serta dalam menumbuhkembangkan profesi, mulai dari pendidikan prajabatan, pelayanan di lapangan, sampai dengan pengembangan kesempatan dan perlindungan terhadap keseluruhan implementasi profesi yang dimaksud, termasuk di dalamnya pelayanan advokasi terhadap klien yang mengalami malapraktik di satu sisi, dan advokasi terhadap sejawat tenaga profesi yang hak-hak profesionalnya terancam di sisi lain.