Oleh, Prayitno

  • “TIDAK TAHU”. Mereka tidak tahu bahwa Tuhan benar-benar ada. Mereka (mungkin) mencari-cari tentang bukti adanya Tuhan. Mencari-cari ke mana-mana; sayangnya tidak mau bertanya. Atau paling-paling bertanya pada diri sendiri, yang jawabannya akan sama saja., yaitu tidak mengerti. Malu bertanya? Sesat di jalan! Tidak mau bertanya? Namanya sombong! Sudah yakin bahwa dirinya tahu? Selain sombong juga statis, konservatif, tidak mau maju! Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu? Alamat menjerumuskan diri sendiri ke jurang ketidakpastian atau bahkan kecelakaan. Sesungguhnya, orang yang tidak tahu dan atau tahu bahwa dirinya tidak tahu adalah orang yang berpotensi untuk mendapat kebaikan dari segenap penjuru, dengan bertanya kepada orang yang tahu.

  • “TIDAK AMAN”. Mereka hidup dalam suasana resah dan gelisah. Sekitar dirinya tidak cerah, “penuh sampah”, centang-perenang yang membuat diri tidak tenang, tegang, tecengang-cengang atau bahkan meradang. Keadaan tidak aman itu disikapi secara konfrontatif, provokatif, dengan cara-cara negatif, antagonistis. Hasilnya: perang dan menyerang, yang menghancurkan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Sesungguhnya, orang yang merasa tidak aman perlu sabar dan secara cermat mempertimbangkan segala sesuatunya sehingga tidak memperkeruh keadaan.

  • “TIDAK TERARAH”. Katanya mereka peduli kepada berbagai kondisi negatif seperti terjadinya bencana, kesenjangan, keonaran, ketidakadilan, kemiskinan, penyakit, korupsi, dan lain-lain. “Kalau Tuhan ada mengapa semuanya itu terjadi”, keluh mereka. Coba kita balikkan arah pertanyaan mereka itu. “Kalau Tuhan tidak ada, apakah semua yag dimaksudkan itu tidak akan terjadi?”. “Semua akan mulus, menyenangkan, membahagia-kan?”. Pertanyaan bolak-balik itu arahnya kacau-balau. Juga arah kepedulian mereka itu, kacau-balau. Kalau benar peduli kepada orang miskin, mengapa tidak membantu mereka? Tidak berdarma bakti kepada mereka yang sakit; mereka yang ditimpa bencana; tidak ikut memberantas korupsi? Kok malah berpikir dan berteriak-teriak “Tuhan tidak ada”. Ketidakterarahan pikiran, perasaan, sikap, tindakan dan tanggung jawab seperti itu justru akan mengacaukan diri sendiri dan siapa yang terkena imbasnya, yang justru akan membuat kondisi negatif semakin parah. Sesungguhnyalah, orang yang pribadinya terarah akan mewujudkan kepedulian terhadap apa saja, melalui strategi dan cara-cara berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggungjawab secara positif, konstruktif untuk kemaslahatan semua pihak.

  • “TIDAK BERSYUKUR”. Mereka tidak tahu bahwa kehidupannya sangat tergantung pada faktor-faktor di luar diri sendiri. Bagaimana asal-usulnya mereka menjadi manusia, bernafas, berkembang dari bayi, dewasa dan lanjut usia ? Bagaimana bisa makan, berpakaian, punya rumah, mendapat kenikmatan hidup ? Sebaliknya, kondisi negatif pada diri sendiri banyak tergantung pada perilaku diri sendiri. Apa akibatnya kalau tidak mau makan, tidak berpakaian, minum racun, membiarkan diri bodoh, sakit, sengsara? Alih-alih bersyukur, mereka malahan mengajak orang lain untuk mejadi seperti dirinya, yaitu tidak mengakui adanya Tuhan. Sesungguhnyalah, orang yang bersyukur akan terpelihara dirinya dari akibat buruk perbuatan sendiri dan hal-hal di luar dirinya.

  • “TIDAK BERANI”. Secara menyeluruh mereka tidak berani: tidak berani mengakui ketidaktahuan mereka; tidak berani melawan ketidakamanan diri; tidak berani megarahkan diri secara positif; tidak berani bersyukur. Padahal mereka tahu bahwa akhirnya akan mati. Tetapi mereka tidak berani berbicara tentang mati dan apa yang ada sesudah kematian; tentang perbedaan dan keterkaitan antara dunia dan akhirat; tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dan di dalam kehidupan di akhiratnya nanti; tidak berani berpayah-payah belajar agama dan mengamalkan ajaran agama itu. Ketidakberanian mereka ditutupi atau dibungkus dengan konsep beku “tidak ada Tuhan”, yang konsep itu benar-benar membekukan ketidakberanian mereka. “Keberanian” mereka hanya satu, yaitu berteriak mengajak orang lain untuk beratheisme ria. Sesungguhnyalah, orang yang berani adalah yang dengan sungguh-sungguh membangun dirinya sendiri untuk menyatukan dunia dan akhirat dengan sebenar-benarnya beribadah.